Ini Keluargaku, Mana Keluargamu?

by - 3/29/2013


Sekilas flashback ke masa kecilku. Ternyata aku memiliki masa kecil yang cukup menyenangkan dan juga menyedihkan. Ya memang aku tak sepenuhnya ingat masa-masa kecilku karena aku ini termasuk orang yang pelupa. Aku dilahirkan dari keluarga yang amat sangat sederhana.

Kakekku bernama Soma, ayah dari Ibuku. Sekarang Ia sudah almarhum sejak aku kecil sekali. Ya, aku belum sekolah waktu Ia meninggal. Aku ingat ketika aku mencium dahinya ketika ia sudah terbaring tak bernyawa. Bukan hanya aku saja tapi hampir semua cucunya.

Aku memiliki keluarga yang begitu besar. Kakeku memiliki seorang isteri yang cantik bernama Mutmainah yang tidak lain adalah nenekku. Nenekku waktu masih muda memiliki wajah yang cantik kata Mimi Yan. Mimi adalah panggilan orang Jawa. Mimi Yan ini adalah anak pertama dari kakkek dan nenekku. Masih ada Sembilan anak lainnya. Banyak bukan?

Mimi Yan pernah bilang kalau dahulunya nenekku menjadi rebutan di kampungnya yakni Inderamayu. Katanya nenekku itu bisa menikah dengan kakekku karena kakekku yang memenangkan sayembaranya. Entahlah sayembara apa itu.

Kakekku seorang yang sederhana. Ia senang merebus daun kaca beling yang sempat aku kira air teh dan aku meminumnya hingga memuntahkannya lagi karena tidak enak. Tak pernah kakekku memakai pakaian yang ‘wah’. Jika di rumah ia hanya memakai kaos dan kain sarung. Terkadang memakai kopiah.

Ayahnya bernama  Kalun (alm) yang dahulunya seorang kepala desa di Sukahurip, Indramayu. Ibunya bernama Tarsimpen (alm). Kalau dengar-dengar cerita dari mimi-mimi dan saudara-saudaraku bisa dibilang Kakeku punya kekuatan mistis.  Kakakku pernah bilang, katanya Mbah pernah berbicara dengan makhluk halus. Mbah adalah panggilan untuk kakekku.

Selain itu juga, seingatku aku pernah memakan jeruk yang  sebelumnya Mbah letakkan di kuburan dekat kediaman kami di daerah Bekasi Timur.  Ternyata kakekku kejawen. Tetapi setelah menikah dengan nenekku, kakek menjadi seorang islam.

Dahulu kami tinggal di lingkungan yang sederhana. Jangan pikir kami tinggal disebuah komplek perumahan. Coba bayangkan waktu itu kami tinggal bersama-sama dalam satu wilayah yang cukup luas. Jadi ada beberapa rumah yang berderetan yang diisi setiap kepala keluarga yang tidak lain anak-anak kakeku.
Rumah kami saat itu sangat sederhana. Hampir semuanya hanya terbuat dari papan atau triplek. Tapi kami punya kebun. Kakeklah yang mengurus kebunnya. Ada pohon singkong, daun kaca beling, jambu monyet, mangga, nangka, sirsak dan ada sebuah empang yang berisi ikan-ikan.

Namun sangat menyedihkan. Tempat yang dahulunya menjadi saksi kebahagiaan keluarga kami sudah direbut oleh orang lain. Sepeninggal kakek, tanah itu menjadi sengketa dan kami kalah sehingga kami semua harus hengkang dari tempat dimana kami hidup bersama.

Kakeku hanya seorang pegawai negeri. Tapi Ia memiliki hati yang sangat baik. Ia selalu menolong orang. Apa yang kalian lakukan jika melihat orang gila? Kebanyakan dari kita hanya diam saja, atau bahkan lari ketakutan. Tapi tidak bagi kakeku, justru Ia memandikan dan member makan orang gila tersebut.

Selain itu juga dahulu saat tinggal di Indramayu. Aku belum lahir. kakek menikahi banyak wanita. Bukan karena kakeku seorang playboy. Tapi untuk menolong wanita-wanita itu karena wanita yang dinikahi kakek adalah wanita yang kurang mampu.

Pokokknya jika mendengar cerita dari Mimi-mimiku kakekku ini sangat hebat. Aku sangat bangga terhadap kakekku.

Aku tidak terlalu banyak mengetahui tentang nenekku. Nenekku sekarang masih hidup tapi dalam keadaan stroke. Sejak aku SMP hingga sekarang nenekku masih terbaring di tempat tidur saja. Aku sungguh sedih ketika melihatnya. Ia sudah sulit berbicara dengan jelas.

Orang tua nenekku bernama Maemunah (alm) dan Dul Jamil (alm). Dul Jamil yang tidak lain uyutku dahulunya seorang kepala desa juga di Sukahurip, Indramayu. Sedangkan uyut perempuanku hanya seorang ibu rumah tangga sama seperti uyut permpuanku dari kakek.

Itu ceritaku tentang keluargku dari Ibu. Tentu aku juga punya kakek dan nenek dari pihak ayahku. Tapi jujur saja aku tak tahu banyak tentang keluarga dari ayahku karena aku menjadi seorang yatim diusiaku yang masih balita.

Papah, begitu aku memanggilnya. Ia mengalami kecelakaan ketika ingin menjemput kami dirumah Mimi Yan. Semasa kecilku aku selalu dititipkan karena Papah dan Mamah harus bekerja. Papah meninggal di tempat. Sungguh pada saat itu aku masih sangat kecil yang tidak mengerti apa-apa. Ah, aku jadi merindukan ayahku.
Itulah yang membuatku tidak dekat dengan keluarga ayahku. Bahkan aku tadinya tidak tahu ayahku anak ke berapa. Aku jarang berjumpa dengan keluarga dari ayahku. Tapi aku kadang berkunjung ke rumah Eyang uti berdua dengan kakakku.

Kini Eyang Uti dan Eyang Kakung sudah meninggal. Susmini (alm) adalah nama Eyang Uti. Aku mengetahui itu pun memalui BBM (Blackberry Messenger) dari Tante Wiwik, adik ayahku. Dahulunya Eyang Uti adalah seorang perawat.

Eyang Kakungku memiliki nama Gozali (alm). Ia dahulunya pernah berkerja di BPS dan juga seorang dosen di AIS (Akademi Ilmu Statistik). Maka dari itu ayahku pandai sekali dalam ilmu statistik.
Jika dibandingkan antara kakek dan nenek dari Ibuku dan Ayahku sungguh sangat berbeda. Satu sisi masih percaya terhadap hal mistis dan satu lagi sudah mengalami kemajuan dalam teknologi. Bagaimanapun keluargaku aku tetap bangga.


You May Also Like

0 komentar