• Home
    • About
    • Contact

Anggisaurus


Setelah dua hari dalam keadaan koma, akhirnya aku tersadar dari ajal yang hampir saja merenggut nyawaku. Ku buka kedua mata perlahan sambil merasakan sakit yang masih tertanggal di sekujur tubuh, terutama kaki. Kurasakan ada sesuatu yang aneh saat itu. Aku menoleh secara perlahan dan merasakan ada sesuatu yang berbeda. “Kemana kaki kananku?”, tanyaku dalam hati. Aku menyadari bahwa kakiku telah tiada, ya kaki kanan ku telah diamputasi. Awalnya aku shock, “Tapi ya sudahlah”, batinku.

Aku tak melihat seorang pun saat itu. Tak lama kemudian Ibu datang dan menghampiri. Ibu terlihat sangat sedih dan depresi, serta mulai meneteskan air mata sambil menatap dalam-dalam ke arahku. Tentu Ia tak kan sanggup melihat nasib anak pertamanya terbaring tak berdaya di atas ranjang Rumah Sakit Sumber Waras, Grogol.

Orang tua mana yang tidak sakit melihat anaknya cacat. Aku akan cacat seumur hidup tanpa adanya kaki bagian kanan. Bagaimana kelak masa depanku?, itu yang ada dipikiran wanita terhebat yang ku miliki. Ibu takut kalau-kalau kelak aku sulit mencari pekerjaan hingga masa depannku menjadi suram.

Bukan hanya Ibu saja, tetapi ada beberapa sanak saudara yang sengaja datang dari Palembang dan Magelang untuk menjenguk. Mereka pun menatap iba melihat keadaan aku. Lalu teman-teman sekolahku serta teman-teman dari komunitas pecinta kereta, yakni Komunitas Edan Sepur Indonesia juga datang. Aku memang sangat menyukai kereta. Salah satu hobiku adalah pergi kesuatu tempat untuk sekadar jalan-jalan, tapi tanpa persiapan yang matang dan biaya yang memadai atau lebih tepatnya aku ini seorang backpacker. Itulah kenapa aku menyukai kereta api. Mereka semua mendukung aku untuk bangkit dan tidak harus menyesalkan semua yang telah terjadi.

Saat itu tak terlihat kehadiran ayah. Kemana Ayah? Tanyaku dalam hati. Ternyata ayah tidak ada. Bahkam ayah tak sekalipun menjagaku saat aku dalam keadaan tak sadarkan diri, bahkan ayah tak menjengukku. Aku tahu, ayah melakukan ini bukan karena Ia tak sayang kepadaku, tapi Ayah terlalu lemah jika harus melihat anak pertamanya telah kehilangan kaki kanannya. “Mungkin ini terlalu menyakitkan bagi ayah”, pikirku.

Apa aku histeris atau berteriak ketika menyadari sebelah kakiku harus harus diamputasi? Tidak! Aku tak histeris atau bahkan berteriak saat menyadari bahwa kaki kanan ini telah diamputasi. Aku bukannya pasrah, tapi aku hanya merasa tak patut menyesali semua yang telah terjadi. Ini kehendak Allah.

Sekitar dua minggu sebelum peritiwa itu terjadi, ibu bertanya kepadaku “Kaki kanan kamu kenapa?”. “Nggak kenapa-kenapa, Bu. Tuh liat tuh ngga apa-apa kan?”, jawabku sambil menghentak-hentakkan kaki kanan ke lantai. Ternyata ucapan Ibu adalah sebuah firasat seorang Ibu bahwa akan terjadi sesuatu kepada anaknya.

Namaku Ardi Rizki Yozho. Teman-temanku banyak yang memanggilku Ijon. Anak pertama dari dua bersaudara. Peristiwa yang takkan pernah aku lupakan sampai kapanpun itu terjadi pada 15 Januari 2011 silam. Saat itu Aku masih duduk di bangku kelas 2 SMK Al-Muhadjirin jurusan Teknik Kendaraan Ringan. Kecintaan pada kereta membuatku memilih DIPO Lokomotif Tanah Abang PT KAI untuk menjadi tempat Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari sekolah. Setiap harinya aku menuju tempat PKL dengan menggunakan kereta api dari stasiun Bekasi.

Pagi itu sangat cerah. Tak ada firasat apapun yang aku rasa. Seperti biasanya, dengan menggunakan angkutan umum aku menuju stasiun Bekasi untuk melaksanakan PKL. Sesampainnya di tempat PKL, pekerjaan yang aku terima tidak berat, hanya bantu-bantu mengecek keadaan lokomotif kereta saja. Jam dua siang pekerjaanku telah usai hingga aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah di perumnas 3, Bekasi Timur.

Ku rogoh kantong celana dan membeli tiket kereta api ekonomi jurusan Tanah Abang-Bekasi. Tapi tiba-tiba aku berubah pikiran ketika sebuah kereta batu bara melintas dan berhenti. “Ah naik kereta ini saja biar cepet sampai rumah”, pikirku saat itu. Kereta batu bara tentu tidak akan melakukan transit di setiap stasiun yang dilewati, jadi tanpa berpikir panjang aku memutuskan untuk menaiki kereta tersebut walaupun sebenarnya ini melanggar aturan. Tapi sebelumnya aku pernah melakukan ini.

Sambil memasang kedua headset di telinga aku mendengarkan musik. Terlihat seorang pria berambut panjang tanpa menggunakan baju berada dalam satu gerbong dengaku yakni gerbong pertama di belakang lokomotif. Ia sempat meminta api untuk menyalahkan rokok. Baru dua stasiun terlewati, tiba-tiba aku melihat dua orang pria memanjat gerbong dan keduanya membawa batu.Aku masih tetap mendengarkan musik sampai kedua orang itu mendekatiku.

“Gue minta handphone lo dong”, ujar salah satu dari mereka.
“Gue nggak ada handphone bang”, jawabku berbohong.
“Jangan bohong lo”

“Gue adanya duit nih itu juga buat ongkos balik”


Merek mungkin kesal karena dibohongi. Tentu mereka tahu aku memiliki handphone, karena jelas-jelas headset masih menempel di telingaku. Tanpa basa-basi mereka langsung memukuliku dengan batu yang mereka bawa. Aku tak sanggup melawan dan akhirnya didorong hingga terjatuh dari gerbong dan terlempar. Aku tak sadarkan diri.

Aku sama sekali tidak ingat apa saja yang terjadi sesaat sesudah jatuh dari kereta api. Bahkan aku tak tahu apa yang dilakukan pria tanpa baju dan berambut panjang yang meminta api untuk membakar rokoknya itu kepadaku, yang aku ingat salah satu dari pria yang memukuliku memakai topi.

Saat aku terbaring tak berdaya di antara dua sisi rel kereta api, ada seorang saksi yang bahkan aku lupa namanya. Ia yang menolongku pertama kali. Ia juga bercerita, katanya saat itu aku sudah ditutupi koran karena dianggap sudah meninggal. Saat ditutupi koran, aku merintih kesakitan. Kepalaku bocor, tangan, badan penuh dengan luka dan yang paling fatal, kaki kiriku telah putus saat itu juga.

Akhirnya dengan menggunakan truk aku dilarikan ke rumah sakit. Sudah tiga rumah sakit tak bisa memberikanku pertolongan pertama karena semuanya penuh. Hingga akhirnya Rumah Sakit Sumber Waras, Grogol, menerima seorang anak laki-laki yang sedang meregang nyawa ini.

Aku sangat bersyukur kepada Allah yang masih mengizinkanku menghirup udara segar, walaupun aku harus kehilangan kaki kananku. Aku tahu Allah memberikan cobaan ini karena Ia sayang denganku. Aku tak pernah menyesal karena aku masih tetap bisa melakukan hal-hal yang aku suka. Hampir tiga bulan aku tidak masuk sekolah karena dalam proses penyembuhan.

Akhirnya aku kembali ke bangku sekolah lagi. Aku rindu teman-teman. Aku sangat rindu sekolah saat itu. Dengan menggunakan tongkat aku kembali menuntut ilmu. Aku tak merasa malu untuk kembali ke sekolah dalam keadaan cacat. Aku pun tak mau terlihat sebagai sosok seseorang yang harus dikasihani maka dari itu aku selalu berusaha melakukan apapun yang memang masih bisa aku lakukan tanpa bantuan orang lain.
Aku memutuskan untuk menggunakan kaki palsu yang tebuat dari fiber. Sangat sulit menggunakan fiber, karena beratnya bisa mencapat 3 kg. Sehingga walaupun memakai kaki palsu aku tetap menggunakan tongkat. Aku ingat, tak lama sejak aku mulai menggunakan kaki palsu fiber aku sudah langsung menaikki kereta api lagi karena saat itu sedang ada promo dari PT KAI. Walaupun aku hampir meregang nyawa di kereta api, kecintaanku terhadap kereta api tidak pernah sirna.

Aku merasa kaki fiber ini kurang efektif, maka aku menggantinya dengan kaki palsu dari stainless. Kaki palsu stainless ini yang sampai sekarang menemaniku ‘gowes’ setiap hari. Kendati aku kehilangan kaki kanan, aku masih bisa menjalani hari-hariku tanpan rasa sedih.

Ketika aku sedang asik ‘gowes’ tak sedikit orang yang memperhatikanku dari belakangan, saat aku menoleh ke samping mereka langsung mendahului. Aku tahu keadaanku yang seperti ini akan menarik perhatian orang di sekitar. Sekali lagi, itu bukan masalah bagiku.

Sekarang aku sudah menjadi seorang mahasiswa semester dua di Politeknik Negeri Jakarta jurusan Teknik Grafika Penerbitan. Setiap akhir pekan aku pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda motor. Aku bersyukur aku masih bisa menjalani hidup layaknya orang normal.

(Oleh : Anggi Istiqomah)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sekilas flashback ke masa kecilku. Ternyata aku memiliki masa kecil yang cukup menyenangkan dan juga menyedihkan. Ya memang aku tak sepenuhnya ingat masa-masa kecilku karena aku ini termasuk orang yang pelupa. Aku dilahirkan dari keluarga yang amat sangat sederhana.

Kakekku bernama Soma, ayah dari Ibuku. Sekarang Ia sudah almarhum sejak aku kecil sekali. Ya, aku belum sekolah waktu Ia meninggal. Aku ingat ketika aku mencium dahinya ketika ia sudah terbaring tak bernyawa. Bukan hanya aku saja tapi hampir semua cucunya.

Aku memiliki keluarga yang begitu besar. Kakeku memiliki seorang isteri yang cantik bernama Mutmainah yang tidak lain adalah nenekku. Nenekku waktu masih muda memiliki wajah yang cantik kata Mimi Yan. Mimi adalah panggilan orang Jawa. Mimi Yan ini adalah anak pertama dari kakkek dan nenekku. Masih ada Sembilan anak lainnya. Banyak bukan?

Mimi Yan pernah bilang kalau dahulunya nenekku menjadi rebutan di kampungnya yakni Inderamayu. Katanya nenekku itu bisa menikah dengan kakekku karena kakekku yang memenangkan sayembaranya. Entahlah sayembara apa itu.

Kakekku seorang yang sederhana. Ia senang merebus daun kaca beling yang sempat aku kira air teh dan aku meminumnya hingga memuntahkannya lagi karena tidak enak. Tak pernah kakekku memakai pakaian yang ‘wah’. Jika di rumah ia hanya memakai kaos dan kain sarung. Terkadang memakai kopiah.

Ayahnya bernama  Kalun (alm) yang dahulunya seorang kepala desa di Sukahurip, Indramayu. Ibunya bernama Tarsimpen (alm). Kalau dengar-dengar cerita dari mimi-mimi dan saudara-saudaraku bisa dibilang Kakeku punya kekuatan mistis.  Kakakku pernah bilang, katanya Mbah pernah berbicara dengan makhluk halus. Mbah adalah panggilan untuk kakekku.

Selain itu juga, seingatku aku pernah memakan jeruk yang  sebelumnya Mbah letakkan di kuburan dekat kediaman kami di daerah Bekasi Timur.  Ternyata kakekku kejawen. Tetapi setelah menikah dengan nenekku, kakek menjadi seorang islam.

Dahulu kami tinggal di lingkungan yang sederhana. Jangan pikir kami tinggal disebuah komplek perumahan. Coba bayangkan waktu itu kami tinggal bersama-sama dalam satu wilayah yang cukup luas. Jadi ada beberapa rumah yang berderetan yang diisi setiap kepala keluarga yang tidak lain anak-anak kakeku.
Rumah kami saat itu sangat sederhana. Hampir semuanya hanya terbuat dari papan atau triplek. Tapi kami punya kebun. Kakeklah yang mengurus kebunnya. Ada pohon singkong, daun kaca beling, jambu monyet, mangga, nangka, sirsak dan ada sebuah empang yang berisi ikan-ikan.

Namun sangat menyedihkan. Tempat yang dahulunya menjadi saksi kebahagiaan keluarga kami sudah direbut oleh orang lain. Sepeninggal kakek, tanah itu menjadi sengketa dan kami kalah sehingga kami semua harus hengkang dari tempat dimana kami hidup bersama.

Kakeku hanya seorang pegawai negeri. Tapi Ia memiliki hati yang sangat baik. Ia selalu menolong orang. Apa yang kalian lakukan jika melihat orang gila? Kebanyakan dari kita hanya diam saja, atau bahkan lari ketakutan. Tapi tidak bagi kakeku, justru Ia memandikan dan member makan orang gila tersebut.

Selain itu juga dahulu saat tinggal di Indramayu. Aku belum lahir. kakek menikahi banyak wanita. Bukan karena kakeku seorang playboy. Tapi untuk menolong wanita-wanita itu karena wanita yang dinikahi kakek adalah wanita yang kurang mampu.

Pokokknya jika mendengar cerita dari Mimi-mimiku kakekku ini sangat hebat. Aku sangat bangga terhadap kakekku.

Aku tidak terlalu banyak mengetahui tentang nenekku. Nenekku sekarang masih hidup tapi dalam keadaan stroke. Sejak aku SMP hingga sekarang nenekku masih terbaring di tempat tidur saja. Aku sungguh sedih ketika melihatnya. Ia sudah sulit berbicara dengan jelas.

Orang tua nenekku bernama Maemunah (alm) dan Dul Jamil (alm). Dul Jamil yang tidak lain uyutku dahulunya seorang kepala desa juga di Sukahurip, Indramayu. Sedangkan uyut perempuanku hanya seorang ibu rumah tangga sama seperti uyut permpuanku dari kakek.

Itu ceritaku tentang keluargku dari Ibu. Tentu aku juga punya kakek dan nenek dari pihak ayahku. Tapi jujur saja aku tak tahu banyak tentang keluarga dari ayahku karena aku menjadi seorang yatim diusiaku yang masih balita.

Papah, begitu aku memanggilnya. Ia mengalami kecelakaan ketika ingin menjemput kami dirumah Mimi Yan. Semasa kecilku aku selalu dititipkan karena Papah dan Mamah harus bekerja. Papah meninggal di tempat. Sungguh pada saat itu aku masih sangat kecil yang tidak mengerti apa-apa. Ah, aku jadi merindukan ayahku.
Itulah yang membuatku tidak dekat dengan keluarga ayahku. Bahkan aku tadinya tidak tahu ayahku anak ke berapa. Aku jarang berjumpa dengan keluarga dari ayahku. Tapi aku kadang berkunjung ke rumah Eyang uti berdua dengan kakakku.

Kini Eyang Uti dan Eyang Kakung sudah meninggal. Susmini (alm) adalah nama Eyang Uti. Aku mengetahui itu pun memalui BBM (Blackberry Messenger) dari Tante Wiwik, adik ayahku. Dahulunya Eyang Uti adalah seorang perawat.

Eyang Kakungku memiliki nama Gozali (alm). Ia dahulunya pernah berkerja di BPS dan juga seorang dosen di AIS (Akademi Ilmu Statistik). Maka dari itu ayahku pandai sekali dalam ilmu statistik.
Jika dibandingkan antara kakek dan nenek dari Ibuku dan Ayahku sungguh sangat berbeda. Satu sisi masih percaya terhadap hal mistis dan satu lagi sudah mengalami kemajuan dalam teknologi. Bagaimanapun keluargaku aku tetap bangga.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


‘Berhijab’ itulah kata yang digunakan banyak wanita muslim di Indonesia saat ini ketika mereka menggunakan penutup kepala atau biasa disebut jilbab. Apakah benar makna berhijab itu hanya sekedar menutup bagian kepala saja?

Indonesia memiliki lebih dari 200 juta pendukuk yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Trend  berhijab saat ini memang sedang marak di Indonesia terutama di kalangan remaja. Setiap kita melangkahkan kaki keluar rumah pasti menemui wanita yang berjilbab dengan berbagai macam jenis kerudung dan beragam cara memakainya. Sebenarnya trend berhijab ini baik sekali karena dengan trend ini mambuat banyak remaja ikut-ikutan menggunakan jilbab.

Memang tidak dipungkiri dengan berbagai jenis kerudung dan berbagai corak membuat siapa pun yang melihatnya akan tertarik serta yang menggunakannya akan lebih percaya diri. Ditambah lagi dengan aksesoris-aksesoris yang menambah aksen cantik bagi si pengguna. Itu tidak masalah karena bagaimanapun bentuk kerudungnya dan corak apa yang digunakan serta seberapa banyak aksesoris yang digunakan bukan menjadi tolak ukur keagamaan seseorang.

Tapi, coba berfikir dua kali sebelum menggunakan kata ‘hijab’ ketika seorang wanita yang baru ingin memulai menggunakan jilbab tetapi tidak berhijab dengan sebenarnya. Apalagi bagi wanita yang hanya memakai jilbab untuk suatu kepentingan misalnya hanya untuk pergi ke sekolah, kampus atau tempat lainnya dengan tidak memperhatikan pakaian yang digunakan.

Menurut data dari Wikipedia Hijab adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti penghalang kata "hijab" lebih sering merujuk kepada kerudung yang digunakan oleh wanita muslim (jilbab) Namun dalam keilmuan Islam, hijab lebih tepat merujuk kepada tatacara berpakaian yang pantas sesuai dengan tuntunan agama.

Selain itu pula dalam Al Qur'an pada dua surat Al-Ahzab :59 dan An-Nur :31 disebutkan kewajiban wanita muslim menggunakan hijab:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Ahzab :59)”    

Kemudian dalam surat An-Nur ayat 31:

“...Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya... (An Nuur :31)”

Jadi trend berhijab di Indonesia merupakan trend berhijab yang salah kaprah. Kedua potongan ayat di atas sangat jelas menunjukan bahwa berhijab itu tidak hanya sekedar menutup kepala dengan kerudung sedangkan bagian dada dan tubuh lainnya masih terbentuk.

Coba perhatikan anak remaja yang menggunakan jilbab di jalan. Banyak yang memakai jilbab hanya sampai leher saja dan membiarkan bagian dadanya ter-expose . Lalu bagaimana dengan remaja yang memakai jeans ketat sehingga bagian bokongnya terbentuk dengan jelas? Tujuan berhijab itu kan salah satunya yakni untuk melindungi diri dari gangguan. Maksudnya gangguan pria yang berniat buruk. Jadi jika seseorang  menggunakan jilbab tetapi tidak menutupi bagian dadanya dan mengenakan pakaian dengan memperlihatkan lekuk tubuh, apakah itu yang dinamakan berhijab?

Kesimpulannya berhijab itu tidak hanya sekadar menggunakan jilbab untuk menutup kepala sedangkan memperlihatkan bagian yang lain. Setiap orang memiliki hak untuk mengekspresikan diri dalam hal ini memakai jilbab dengan berbagai cara masing-masing. Ini bukan mengenai bagaimana berhijab yang sesungguhnya, tapi bagaimana penggunaan kata hijab yang sebenarnya agar penggunaan kata tersebut tidak disalah artikan.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Selasa, 11/12/2012 11:51 WIB
Menggali Potensi Rhoma Irama Sebagai Kandidat Presiden

Ichdinas Shirotol Mustaqim - detikNews
Jakarta - Pencalonan Rhoma Irama sebagai calon Presiden di 2014 nanti, terus menuai kontravesial di kalangan masyarakat luas, utamanya masyarakat menengah atas dengan tingkat pendidikan dan kecerdasan yang mapan.

Mengapa demikian?
Sebab tentunya mereka memiliki kreteria standart pemimpin atas pemahamannya pada betapa kompleksnya permasalahan bangsa ini. Lantas nilai positif apakah yang dapat diambil dari pencalonan Rhoma Irama, pria yang akrab dipanggil Bang Haji Oma, dengan gelar sang Raja Dangdut itu?

Mengingat ia sendiri memiliki latar belakang sebagai musisi (seniman) dangdut yang memiliki berjuta-juta penggemar di seluruh pelosok tanah air.

Lengkap dengan catatan hidup kontroversial mengenai isu hubungannya dengan wanita—arti pendatang baru bernama Lely Anggraeny atau akrab dipanggil Angel Elga dan pernyataannya beberapa waktu lalu pada 
Pilkada DKI, dianggap banyak kalangan mengandung tendensi pemicu konflik SARA.

Bagi penulis (terlepas dari kontravesinya), gembar-gembor pencalonan Rhoma pria kelahiran Tasikmalaya, 11 Desember 1946, berdarah ningrat ini sebagai kandidat Presiden patut diapresiasi.

Meskipun dalam hitungan-hitungan di atas kertas (kalau ini terjadi), Rhoma bakal kalah, mengingat rakyat sekarang sudah cukup cerdas dalam menentukan siapa yang bakal dipilihnya sebagai pemimpin yang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.

Namun perlu juga dipahami, bahwa musisi dan pencipta lagu dangdut yang subur dalam menciptakan karya ini ampuh mengangkat harkat martabat selera kehidupan masyarakat menengah bawah, kaum marjinal, wong cilik atau apapun sebutannya—yang kian terasingkan eksistensinya di tengah deras kejamnya arus globalisasi. Persaingan sengitnya dengan "boy band" atau "Gangnam style".

Dangdut yang sudah puluhan tahun melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kecil, oleh sebagian masyarakat lainnya, khususnya kaula muda, dianggap musik norak dan dikesankan kampungan.

Padahal dangdut efektif menginjeksi semangat persatuan kaum terpinggirkan yang disebutkan tadi. Ialah ruh dari rekatnya ke-Bhinekaan Nusantara.

Alunan nada dan syair-syairnya mujarab meleburkan skat-skat perbedaan. Menembus batasan-batasan SARA dan status sosial lainnya pada masyarakat Indonesia.

Karenanya menjadi pantas jika dangdut di posisikan sebagai salah satu alat perekat kebangsaan. Pengejawantahan nyata sila ketiga pada Pancasila yang wajib dilestarikan.

Pada sejarahnya, dangdut adalah musik (orkes) Melayu kampung yang dimodernkan—diasimilasikan dengan warna musik India. Dan sedikit banyaknya Roma berperan di sini.

Mengawinkan musik Melayu kampung dengan Musik India hingga melahirkan dangdut yang kini begitu digemari masyarakat kecil di seluruh penjuru Nusantara.

Di desa-desa, di kampong-kampung, di perkampungan nelayan, di terminal-terminal, di emperan jalan, di gubuk-gubuk, dan lain sebagainya.

Di sinilah selanjutnya letak nilai istimewanya Rhoma dari apa yang tidak dimiliki kandidat-kandidat lain-nya yang ikut serta meramaikan bursa kandidat Presiden di pemilu 2014 mendatang.

Rhoma Irama meletakkan dangdut dan karya-karyanya sebagai visi-misinya. Tanpa disadari, pencalonan Rhoma justru adalah obat yang mampu menurunkan tensi dari begitu panasnya pergulatan politik persaingan merebut kursi orang nomor satu di republik ini.

Ia dengan karya-karya dangdutnya mampu memantik api semangat persatuan, meraciknya menjadi media dakwah jitu yang memantulkan etos kehidupan baik dan bermoral pada masyarakat. Meski pada praktiknya, Rhoma sendiri begitu menuai kontravesi: beda lagu (yang dinyanyikan) beda perbuatan.

Hemat penulis, mengingat betapa pentingnya potensi (dangdut dan karya-karyanya) Rhoma, terhadap semangat ke-Indonesia-an kita, maka siapa pun kandidat Presiden seyogyanya berkaca pada Rhoma. Bukan mengejeknya, melainkan merangkulnya.

Mengajak kaum muda untuk lagi mencintai dan mau melestarikan dangdut sebuah kebudayaan asli karya anak bangsa. Mengambil nilai positifnya dan membuang jauh-jauh negatifnya.

Dengan begitu, siapa tahu jutaan penggemarnya yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dapat memberikan dukungannya.

Penting lagi dengan alunan, syair-syair dan goyangan dangdutnya itu, tetap hidup subur bersemi di dalam hati rakyat sebagai salah satu perekat kebangsaan yang kokoh.

Dan sudah saatnya pemerinta kita memberikan penghargaan bagi orang-orang yang berjasa menciptakan semangat “Pancasila”, seperti halnya pemerintah Jepang yang memberikan penghargaan kepada seorang juru masak restoran yang telah mengabdi 40 tahun melayani masyarakat.

*Penulis adalah Sekjen Komunitas Anak Muda Cinta Indonesia
Ichdinas Shirotol Mustaqim
Jl. Percetakan Negara V No. 2 DKI Jakarta
dinaz_zone@yahoo.co.id
085221051381
(wwn/wwn)

ANALISIS
Artikel diatas saya dapatkan dari media online yakni detik.com berisi tentang Rhoma Irama yang mencalonkan diri menjadi calon Presiden RI 2014 mendatang. Pencalonan tersebut menuai kontroversi dikalangan masyarakat. Jika dilihat dari bagaimana penulis menyampaikan opininya , penulis terlihat pro terhadap pencalonan Rhoma Irama menjadi Presiden RI mendatang.

Artikel diatas merupakan jenis artikel  preskriptif karena berisi ajakan, imbauan atau perintah terhadap pembaca agar melakukan sesuatu. Sesuatu itu maksudnya, agar pembaca tidak menyudutkan Rhoma Irama. Walaupun tidak didominasi kata seharusnya, semestinya, atau hendaknya tetapi penulis berusaha mengajak pembaca untuk melihat sisi baik Rhoma Irama mencalonkan diri sebagai calon Presiden.

Ada bagian yang menunjukkan sekali kesetujuan penulis terhadap Rhoma Irama bagian tersebut seperti ini ”Hemat penulis, mengingat betapa pentingnya potensi (dangdut dan karya-karyanya) Rhoma, terhadap semangat ke-Indonesia-an kita, maka siapa pun kandidat Presiden seyogyanya berkaca pada Rhoma. Bukan mengejeknya, melainkan merangkulnya.”

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Rabu, 12/12/2012 7:09 WIB 

Nandang Najmulmuni Rektor Unisma periode 2009-2013


Bekasi – Universitas Islam 45 Bekasi (UNISMA) sedang mengadakan pemilihan rektor baru periode 2013-2017. Sejauh ini pemilihan rektor sudah sampai tahap penetapan calon rektor baru oleh yayasan. Panitia pun sudah dibubarkan karena tugas panitia hanya mengusulkan nama-nama yang sudah disahkan senat.


Senat tiap fakultas mengusulkan nama-nama calon rektor ke senat universitas. Panitia pemilihan rektor mengolahnya berdasarkan tata tertib yang sahkan senat universitas. Berdasarkan tata tertib itu para calon di desk evaluation, pertama dari kesediaannya menjadi rektor, lalu kesehatannya, dan pengalaman di UNISMA selama 4 tahun. Senat akan menyeleksi 13 calon.

Dari ke-13 calon tersebut yang lulus hanya 4 calon yakni, Supriyanto dari Fakultas Pertanian (FAPERTA), Bujang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Nuraini dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), dan Marigus Sumardjo dari Fakultas Teknik (FT). Sekarang yayasan sedang mempertimbangkan siapa yang cocok menjadi rektor UNISMA yang baru untuk menggantikan Nandang Najmulmunir. “Senat mengusulkan nama calon rektor dan yayasan yang akan menetapkan.” ujar Nandang ketika ditemui diruangnnya pada Selasa (11/12).

Nandang Najmulmunir selaku Rektor yang masih menjabat saat ini juga menuturkan karakter pemimpin yang cocok untuk memimpin UNISMA. Menurutnya karakter pemimpin yang cocok untuk memimpin unisma yakni amanah melaksanakan tugas dengan tuntan. “Kalau tidak tuntas bukan amanah namanya.” Ujar pria berkacamata ini. Lalu yang kedua harus jujur. “Kalau tidak jujur sistem tidak akan berjalan.” Sambungnya. Ketiga yakni transparan tidak ada yang ditutup-tutupi. Karakteristik keempat yakni, pemimpin harus memiliki inovasi-inovasi yang cerdas.

Selain itu pria yang selama 4 tahun menjadi leader di UNISMA ini juga menjelaskan syarat-syarat untuk menjadi pimpinan yang ideal. Menurutnya syarat utama seorang pemimpin harus memiliki kapasitas yaitu profesional, dan kedua harus memiliki tiga kecerdasan yakni kecerdasan intelektual, sosial dan spiritual. Ia juga berharap rektor yang terpilih dapan melanjutkan sistem yang sudah ada. “Saya kira sistem sudah dibangun, sudah bagus. Saya rasa tinggal dilanjutkan” tutupnya. (Anggi)

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bekasi- Kecelakaan lalu lintas tiap tahun kian meningkat. Khususnya sepeda motor. Menurut Robedtino selaku Polantas di Bekasi Timur, kecelakaan lalu lintas terjadi karena tiga faktor, pengendara itu sendiri, ke
ndaraannya, dan alam seperti hujan atau panas.

Saat musim hujan kecelakaan lalu lintas rentan terjadi. Untuk itu pengendara sepeda motor harus lebih berhati-hati. “Agar tidak terjadi kecelakaan ikuti atau patuhi rambu lalu lintas yang ada” ujar Robedtino. Ia juga menyarankan agar para pengendara tersebut menggunakan kelengkapan, baik untuk pengendara maupun kendarannya.

Jika hujan deras sebaiknya pengendara berteduh sebelum melanjutkan perjalanan. Jika ingin tetap melanjutkan perjalanan gunakan jas hujan. Menurut Robedtino, pengendara motor sebaiknya menggunakan jas hujan berupa setelan baju celana. Ditakutkan jika menggunakan jas hujan seperti kelelawar akan membahayakan pengendara.

Selain itu ia juga sangat menyarankan agar pengendara lebih memerhatikan kendarannya, terutama dibagian rem. “Bawa motor kalau remnya blong kan kecelakaan juga” ujar Polisi yang sudah memiliki dua orang anak ini. (Anggi)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Selasa, 30 Oktober 2012 KPU Kota Bekasi mengadakan diskusi publik di Universitas Islam 45 Bekasi (Unisma).  Tepatnya di ruangan I 201. Pembicara pada saat itu ialah Aos Kuswandi selaku dosen FISIP Unisma dan Syafruddin sebagai komisioner KPU Kota Bekasi.

Acara dimulai pukul 10.00 – 12.00 wib. Perserta yang datang kurang lebih 30 orang, terdiri dari dosen dan mahasiswa. Tema yang diusung ialah “Meningkatkan Pemilukada yang Luber dan Meningkatkan Partisipasi Pemilih” . Sesuai tema tersebut diskusi publik ini bertujuan untuk mensosialisasikan pemilukada kota Bekasi 2012.

Masih tingginya angka golput (golongan putih) dalam pemilu menunjukan bahwa kepedulian dan pertisipasi masyarakat belum optimal.“Pemilukada yang berhasil adalah pemilu dengan tingkat partisipasi rakyatnya tinggi” ujar Aos.

Dengan sosialisasi ini diharapakan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat pada pemilukada 12 Desember mendatang. Selain itu dapat pula mengurangi golput. Acara tersebut ditutup dengan tanya jawab dengan peserta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
suasana main stage
27 dan 28 Oktober 2012 kemarin adalah dua hari yang penting bagi Majalah Hai. Majalah Hai mengadakan acara besar-besaran di Parkir Timur Senayan. Acara tersebut bernama Hai Day. Berlangsung selama dua hari berturut-turut.
Hari pertama Hai Day antrean terlihat panjang. Banyak para pengunjung yang harus berdesak-desakan untuk membeli tiket masuk. Harga tiket masuk dibandrol Rp15.000. Kebanyakan dari pengunjung merupakan anak muda yang datang dari berbagai kota.
Hai Day ini diadakan untuk merayakan ulang tahun Majalah Hai yang ke-35. Dimulai pukul 10.00 hingga selesai. Walaupan di hari pertama sempat turun hujan, tidak menurunkan semangat para pengunjung untuk datang ke acara tersebut.Banyak kegiatan menarik di dalamnya.

Penampilan dari musisi-musisi Indonesia seperti JKT48, Sheila on 7, Tangga turut meramaikan pagelaran akbar tersebut. Itu membuat acara semakin menarik.
Selain itu ada pula dance competition, futsal competition, suffle dance, skateboard serta mini Jakcloth yakni bazaar pakaian. “Acaranya menarik banget. seru lagi” ujar Hari salah satu pengunjung yang berasal dari kota Bekasi.

Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar
Tugas kedua yang diberikan oleh Pak Iwan untuk mata kuliah Penulisan Berita dan Opini yakni menentukan fakta yang layak menjadi berita dan opini dari penulis dari media cetak. Berita tersebut mengandung unsur ekonomi, pendidikan, kesehatan dan politik.

Saya mengambil berita dari Koran kompas dan Republika edisi Selasa, 9 Oktober 2012. Berikut penjabarannya.

1. Politik


Berita di atas berjudul “Presiden Minta Kasus Simulator Ditangani KPK”. Berita tersebut diambil dari Koran kompas. Banyak fakta yang layak menjadi berita dan ada pula opini dari penulis. Berikut penjabarannya.

Fakta : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia menyerahkan penanganan kasus korupsi proyek simulator surat izin mengemudi kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. (paragraf pertama)

Opini penulis : Kasus simulator diduga melibatkan bekas Kepala Korps Lalu Lintas Inspektur Jendral Djoko Susilo dan merugikan negara sekitar Rp 100 miliar. (paragraf keempat)

2. Kesehatan

Berita kedua mengenai kesehatan yang berjudul “Jauhkan Anak dari Infeksi Rabies”. Berita tersebut diambil dari Koran kompas. Berikut penjabarannya.

Fakta : Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), risiko anak terkena rabies empat kali lebih tinggi dibanding orang dewasa. (paragraf pertama)

Opini penulis : Bagi Anda yang memiliki anak yang kerap bermain-main dengan anjing, baik peliharaan maupun anjing liar, hati-hai terhadap infeksi rabies. (paragraf pertama)

3. Ekonomi


Berita ketiga yakni mengenai ekonomi dengan judul “Harga Apartemen di Kawasan Bisnis Melonjak”. Diambil dari Koran kompas. Berikut penjabarannya.

Fakta : Lembaga riset property Colliers International Indonesia menyatakan bahwa harga apartemen di pusat bisnis Jakarta melonjak hingga 24,5 persen pada kuartal ketiga tahun ini. (paragraf pertama)

Opini penulis :  






4. Pendidikan

Berita keempat mengenai pendidikan dengan judul “Kampung Inggris di Kota Pendidikan”. Beritaa tersebut diambil dari Koran Media Indonesia (gambar menyusul). Berikut penjabarannya.
Fakta : Kelima kecamatan itu ialah Kecamatan Sukun, Lowokwaru, Klojen, Kedungkandang, dan Kecamatan Blimbing. (paragraf ke-22)
Opini penulis : Di banyak wilayah, mahasiswa tidak hanya menjadi tutor belajar, tetapi juga berpraktik dalam upaya pemberdayaan ekonomi. (paragraf ke-23)

Share
Tweet
Pin
Share
5 komentar
Older Posts

About me

Welcome to my blog!
Hai, saya Anggi Istiqomah.
Biasa dipanggil Anggi atau Bubul.
Saya akan berusaha secara rutin
untuk mulai mengisi blog ini
dengan konten-konten yang menarik
agar tidak terasa kosong
dan hampa hehe...
Salam kenal dan selamat membaca!

Find me on:

Facebook  Twitter  Google+
 Instagram  Tumblr


Popular Posts

  • Mayoutfit Online Shop Murah Rekomendasiku
    Mayoutfit Online Shop Murah Rekomendasiku  - Pernah denger ngga quote "Shopping is the best medicine" ? Para ciwik-ciwik ...
  • TUGAS KE-2 : Menentukan Fakta dan Opini dari Berita
    Tugas kedua yang diberikan oleh Pak Iwan untuk mata kuliah Penulisan Berita dan Opini yakni menentukan fakta yang layak menjadi berita dan o...
  • Nenen Nyok, Susunya Emang Ngangenin!
    Apa sih yang ada di pikiran kamu ketika denger kalimat "nenen nyok?". Mungkin yang belum tau bakal aneh dengernya. Kal...
  • My Lovelist Untuk Sang Calon Buah Hati Termanis
    Sebentar lagi saya dan suami saya akan di karunia anak pertama kami. Ya, walaupun saat ini kehamilan saya baru memasuki usia 5 bulan...
  • Bekasi Clothing Expo 2017 Summarecon Mall Bekasi
    For your information , event tahunan Bekasi Clothing Expo kini hadir kembali untuk memenami liburan idul adha kamu. Setelah sukses di t...

Labels

Beauty Cerita Fashion Jurnalistik Online Shop Pregnancy Tips & Trick

recent posts

@Rpnzlclothing

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates